coment tentang artikel web 2.0

•Januari 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

artikel ini membuat kita bisa mendapatkan data perbandingan situs di USA sama di indoonesia,KArena bisa dkatakan programer ini ingin memejukan IT di indonesia
tentang web 2.0 di negara kita ternyata banyak . tetapi menurut saya perkembangan ini akan sedikit terhambat karena kita tahu bahwa negara kita ini memiliki perekonomian yang rendah jadi kita perlu bantuan dari pihak asing seperti ini..dan saya pun berharap bahwa perkembangan IT di tanah air akan semakin maju.. ..tentunya dengan investor2 yg mau ikut bergabung demi meningkatkan kemajuan IT di indo…
supaya indonesia ini bisa menjadi contoh negara yang berbasis IT

ten commandment of computer ethics

•Januari 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
1. Thou shalt not use a computer to harm other people.
2. Thou shalt not interfere with other people’s computer work.
3. Thou shalt not snoop around in other people’s files.
4. Thou shalt not use a computer to steal.
5. Thou shalt not use a computer to bear false witness.
6. Thou shalt not use or copy software for which you have not paid.
7. Thou shalt not use other people’s computer resources without authorization.
8. Thou shalt not appropriate other people’s intellectual output.
9. Thou shalt think about the social consequences of the program you write.
10. Thou shalt use a computer in ways that show consideration and respect.

Stadion Maguwoharjo Layak Jadi Rujukan Selain GBK

•Januari 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, nama itulah yang hingga saat ini tercatat sebagai stadion terbaik di Indonesia. Tapi, untuk menyebut stadion yang layak dijadikan rujukan dalam membangun atau membenahi stadion, GBK bukan satu-satunya.

Ada nama stadion lain yang tidak kalah menterengnya untuk dijadikan contoh. Nama tersebut adalah Stadion Maguwoharjo, Sleman, yang merupakan home base PSS Sleman.

“Kalau bicara stadion kelas A di Indonesia dinilai dari faktor kualitas rumput, Stadion di Sleman (Maguwoharjo, Red) menjadi bagian terdepan,” kata Daniel Roekito, arsitek Persik Kediri.

Dia tentu tidak asal menilai. Maklum, mantan pelatih PSS Sleman tersebut sudah menyambangi seluruh stadion-stadion ternama di negeri ini.

Karena itu, Daniel paham betul stadion mana saja di Indonesia yang memang berkualitas. Tidak hanya dari sisi bangunan, namun juga dari kualitas rumputnya. Karena faktor rumput inilah, BLI memutuskan Stadion Maguwoharjo masuk kategori I.

Padahal, stadion yang kabarnya dibangun dengan biaya Rp 90 miliar tersebut belum rampung seratus persen. Ya, hingga saat ini, Stadion Maguwoharjo memang belum dilengkapi fasilitas lampu stadion.

“Stadion Maguwaharjo memang belum selesai dan mungkin baru rampung Maret nanti. Tapi, stadion ini layak jadi prototipe untuk Superliga. Mereka paling bagus,” tarang Joko Driyono, direktur kompetisi BLDI.

“Jika dibandingkan dengan GBK, rumput dan sistem drainase Stadion Maguwoharjo jauh lebih bagus. Karena itu, Stadion Maguwaharjo layak dijadikan contoh. Permasalahan utama yang membelit stadion-stadion di Indonesia kan masalah kualitas rumput

SEJARAH : SEJARAH SINGKAT PERJALANAN TEAM HIJAU PSS MENUJU SEPAKBOLA NASIONAL

•November 26, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

SUDAH lama dan berpanjang lebar orang membicarakan bagaimana sebuah permainan sepakbola bisa baik, berkualitas tinggi. Bahkan, dalam konteks nasional, Indonesia pernah kebingungan mencari jawaban itu. Berbagai pelatih atau instruktur didatangkan dari Brasil, Jerman, Belanda dan sebagainya. Namun, toh sepakbola Indonesia tak pernah memuaskan, bahkan tekesan mengalami kemunduran.

Dari pengalaman upaya Tim Nasional Indonesia untuk membangun sebuah permainan sepakbola yang baik itu, sebenarnya ada kesimpulan yang bisa diambil. Kesimpulan itu adalah, selama ini Indonesia hanya mencoba mengkarbit kemampuan sepakbolanya dengan mendatangkan pelatih berkelas dari luar negeri. Indonesia tidak pernah membangun kultur atau budaya sepakbola secara baik. Dengan kata lain, upaya PSSI selama ini lebih membuat produk instan daripada membangun kultur dimaksud.

Pelatih berkualitas, teori dan teknik sebenarnya bukan barang sulit untuk dimiliki. Elemen-elemen itu ada dalam textbook, atau bahkan sudah di luar kepala seiring dengan meluasnya popularitas sepakbola. Indonesia termasuk gudangnya komentator. Bahkan, seorang abang becak pun bisa berbicara tentang sepakbola secara teoritis dan analitis.

Sebab itu, seperti halnya sebuah kehidupan, sepakbola membutuhkan kultur. Artinya, sepakbola harus menjadi kebiasaan atau tradisi yang melibatkan daya upaya, hasrat jiwa, interaksi berbagai unsur dan berproses secara wajar dan jujur, bertahap dan hidup.

Untuk membangun kultur sepakbola itu, jawaban terbaik adalah membangun kompetisi yang baik pula. Lewat kompetisi, tradisi sepakbola lengkap dengan segala elemennya akan berproses dan berkembang ke arah yang lebih baik. Akan lebih baik lagi kompetisi itu terbangun sejak pelakunya masih kecil, tanpa rekayasa dan manipulasi. Pada gilirannya, tradisi itu akan melahirkan sebuah permainan indah dan berkualitas, serta memiliki bentuk dan ciri khasnya tersendiri. Itu sebabnya, kenapa sepakbola Brasil, Belanda, Inggris, Jerman dan Italia tidak hanya berkualitas, tapi juga punya gaya khasnya sendiri- sendiri.

Dalam konteks kecil dan lokal, Persatuan Sepakbola Sleman (PSS), sadar atau tidak, sebenarnya telah membangun sebuah kultur sepakbolanya melalui kompetisi lokal yang rutin, disiplin dan bergairah. Berdiri tahun 1976, PSS termasuk perserikatan yang muda jika dibandingkan dengan PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, Persija dan lainnya.

Namun, meski muda, PSS mampu membangun kompetisi sepakbola secara disiplin, rutin dan ketat sejak pertengahan tahun 1980-an. Kompetisi itu tak bernah terhenti sampai saat ini. Sebuah konsistensi yang luar biasa. Bahkan, kompetisi lokal PSS kini dinilai terbaik dan paling konsisten di Indonesia. Apalagi, kompetisi yang dijalankan melibatkan semua divisi, baik divisi utama, divisi I maupun divisi II. Bahkan, pernah PSS juga menggelar kompetisi divisi IIA.

Maka, tak pelak lagi, PSS kemudian memiliki sebuah kultur sepakbola yang baik. Minimal, di Sleman telah terbangun sebuah tradisi sepakbola yang meluas dan mengakar dari segala kelas. Pada gilirannya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat PSS mampu menyuguhkan permainan fenomenal dan khas.

Ini prestasi luar biasa bagi sebuah kota kecil yang berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta ini. Di Sleman tak ada sponsor besar, atau perusahaan-perusahaan raksasa yang bisa dimanfaatkan donasinya untuk mengembangkan sepakbola. Kompetisi itu lebih berawal dari kecintaan sepakbola, tekad, hasrat, motivasi dan kemauan yang tinggi. Semangat seluruh unsur #penonton, pemain, pelatih, pengurus dan pembina #terlihat begitu tinggi.

Meski belum optimal, PSS akhirnya menuai hasil dari tradisi sepakbola mereka. Setidaknya, PSS sudah melahirkan pemain nasional Seto Nurdiantoro. Sebuah prestasi langka bagi DIY. Terakhir, pemain nasional dari DIY adalah kiper Siswadi Gancis. Itupun ia menjadi cadangan Hermansyah. Yang lebih memuaskan, pada kompetisi tahun 1999/2000, PSS berhasil masuk jajaran elit Divisi Utama Liga Indonesia (LI).

Perjalanan PSS yang membanggakan itu bukan hal yang mudah. Meski lambat, perjalanan itu terlihat mantap dan meyakinkan. Sebelumnya, pada kompetisi tahun 1990-an, PSS masih berada di Divisi II. Tapi, secara perlahan PSS bergerak dengan mantap. Pada kompetisi tahun 1995/96, tim ini berhasil masuk Divisi I, setelah melewati perjuangan berat di kompetisi-kompetisi sebelumnya.

Dengan kata lain, PSS mengorbit di Divisi Utama LI bukan karena karbitan. Ia melewatinya dengan proses panjang. Kasus PSS menjadi contoh betapa sebuah kulturisasi sepakbola akan lebih menghasilkan prestasi yang mantap daripada produk instan yang mengandalkan ketebalan duit.

Dan memang benar, setelah bertanding di kompetisi Divisi Utama, PSS bukanlah pendatang baru yang mudah dijadikan bulan- bulanan oleh tim-tim elit. Padahal, di Divisi Utama, PSS tetap menyertakan pemain produk kompetisi lokalnya. Mereka adalah M Iksan, Slamet Riyadi, Anshori, Fajar Listiantoro dan M Muslih. Bahkan, M Ikhsan, Slamet Riyadi dan Anshori merupakan pemain berpengaruh dalam tim.

Pada penampilan perdananya, PSS langsung mengagetkan insan sepakbola Indonesia. Di luar dugaan, PSS menundukkan tim elit bergelimang uang, Pelita Solo 2-1.

Bahkan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri yang saat itu berada di Brunei Darussalam dalam rangka promosi wisata juga kaget. Kepada Bupati Sleman Ibnu Subianto yang mengikutinya, Sri Sultan mengatakan, “Ing atase cah Sleman sing ireng-ireng biso ngalahke Pelita.” Artinya, anak-anak Sleman yang hitam-hitam itu (analog orang desa) kok bisa mengalahkan tim elit Pelita Solo.

Saat itu, Ibnu Subianto menjawab, “Biar hitam nggak apa- apa tho pak, karena bupatinya juga hitam.” Ini sebuah gambaran betapa prestasi PSS memang mengagetkan. Bahkan, gubernur sendiri kaget oleh prestasi anak-anaknya. Akan lebih mengagetkan lagi, jika Sri Sultan tahu proses pertandingan itu. Sebelum menang, PSS sempat ketinggalan 0-1 lebih dulu. Hasil ini menunjukkan betapa permainan PSS memiliki kemampuan dan semangat tinggi, sehingga tak minder oleh tim elit dan tak putus asa hanya karena ketinggalan. Berikutnya, tim cukup tua Gelora Dewata menjadi korbannya. Bahkan, di klasemen sementara, PSS sempat bertengger di urutan pertama.

Ketika tampil di kandang lawan, Malang United dan Barito Putra, PSS juga tak bermain cengeng. Bahkan, meski akhirnya kalah, PSS membuat tuan rumah selalu was-was. Sehingga, kekalahan itu tetap menjadi catatan mengesankan. Maka, tak heran debut PSS itu kemudian menjadi perhatian banyak orang. Hanya dalam sekejap, PSS sudah menjadi tim yang ditakuti, meski tanpa bintang.

Pembinaan sepakbola ala PSS ini akan lebih tahan banting. Sebab itu, terlalu berlebihan jika menilai PSS bakal numpang lewat di Divisi Utama.

Dengan memiliki tradisi sepakbola yang mantap dan mapan, tak menutup kemungkinan jika PSS akan memiliki kualitas sepakbola yang tinggi. Bahkan, bukan hal mustahil jika suatu saat PSS bisa juara LI.

Apa yang terjadi di Sleman sebenarnya mirip dengan yang terjadi di Bandung dengan Persib-nya dan di Surabaya dengan Persebaya-nya. Di kedua kota itu, kompetisi lokal juga berjalan dengan baik, bahkan sepakbola antarkampung (tarkam) pun kelewat banyak. Maka tak heran jika sepakbola di Bandung dan Surabaya sangat tangguh dan memiliki ciri khas tersendiri. Oleh karena itu, jika tradisi sepakbola di Sleman bisa dipertahankan bahkan dikembangkan, tak menutup kemungkinan PSS akan memiliki nama besar seperti halnya Persib atau Persebaya. Semoga!

Asisten Manajer Persiba Kagum Dengan Slemania

•November 26, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kreatifitas dan kemeriahan yang disajikan oleh Slemania pada saat PSS menjamu Persiba Balikpapan beberapa waktu lalu membuat kesan mendalam di hati Asisten Manajer Persiba, Yusran SH. Pria berambut cepak itu tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada para Slemania.

Dia merasa salut dengan apa yang diperlihatkan oleh Slemania saat PSS ketinggalan 0-1 dari Persiba, yakni tidak membuat keributan tapi justru memompa semangat tim dengan meneriakkan berbagai yel-yel yang sopan. Saat itu juga dirinya menantang Andy Welly, Ketua PFC (Persiba Fans Club) untuk mencontoh para Slemania. Menurut Yusran, wajar kalau Slemania terpilih sebagai suporter terbaik nasional di Kompetisi PSSI Liga Indonesia 2005.

“Mereka semua berjiwa besar dan memberi respons positif kepada semua tim yang bertandang. “Sama sekali tidak ada lemparan ke dalam lapangan. Mereka tertib semua dan bergaya intelek. Sebaiknya ini disosialisasikan kepada manajemen PFC, agar bisa meniru mereka,” ujar Yusran.

Hal serupa diungkapkan Bahriansyah, fans Persiba yang kebetulan ikut menyaksikan partai away Tim Beruang Madu ke Sleman. “Bahkan Slemania itu mampu mengkoordinir keamanan pertandingan. Mereka juga melindungi suporter Persiba yang ada di sana dan mengamankan mahasiswa Kaltim yang mendukung Persiba sampai pertandingan usai. Mereka benar-benar menghormati tim tamu. Alangkah baiknya jika PFC bisa melakukan hal yang sama,” ujar Bahri.

Bila suporter lain saja mampu mengakui dan menghargai keberadaan Slemania, maka kita sendiri sebagai seorang Slemania sejati harus bisa mempertahankan keunggulan kita selama ini. Meski tim dalam keadaan tertinggal Slemania harus dapat berpikir positif dan tetap menjaga kesopanan di lapangan maupun di luar lapangan. Kita harus senantiasa menjunjung motto kita selama ini, “Senajan Edan Tapi Tetep Sopan”.

Rindu Pesta Kemenangan

•November 26, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada tanggal 24 november 2007 pukul 15.30 saya nonton pertandingan antara PSS vs PERSITARA dan saya berharap banyak PSS untuk bisa meraih kemenangan tetapi Hampir saja tim PSS, kalah di kandang sendiri di Stadion Maguwoharjo Sleman. Dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007 yang berlangsung Sabtu ,24 november lalu sore tadi, PSS nyaris dipermalukan tamunya Persitara Jakarta Utara.

Setelah ketinggalan terlebih dulu 0-3 PSS akhirnya mampu menahan imbang menjadi 3-3 yang ditentukan pada saat-saat injury time melalui titik penalti. Hasil imbang ini tidak merubah posisi PSS yang tetap berada di urutan 13 klasemen sementara wilayah barat dengan nilai 37. Sementara Persitara naik satu peringkat ke posisi 10 dengan perolehan point 40.

PSS yang sejak awal berusaha meraih poin lebih dulu kerap melancarkan serangannya. Namun, sundulan kepala Mamadou yang memanfaatkan umpan matang dari Fajar Listiyantoro masih melenceng ke sisi kiri gawang Persitara . Sebaliknya, Persitara yang bermain tanpa beban lebih sering membahayakan gawang PSS yang dikawal kiper Dwi Adi Nugrahanto.

Alhasil, pada akhir babak peertama kubu tamu lebih dulu leading melalui tendangan striker Bationo yang menerima umpan silang dari sektor kanan yang dilakukan Itimi Dickson. Kondisi 0-1 untuk keunggulan Persitara tidak berubah hingga wasit meniup peluit tanda waktu turun minum.

Pada babak kedua, tampaknya permainan PSS justru terbawa permainan lawan. Beberapa kali gawang PSS terancam serangan Persitara yang dipimpin kapten Kurniawan Dwi Yulianto yang musim lalu memperkuat PSS. Sialnya, pada awal babak kedua kembali PSS harus ketinggalan 0-2 setelah lagi-lagi Bationo berhasil menundukkan kiper Dwi Adi.

Dua menit berselang, kembali tim tamu menambah kemalangan PSS menjadi 0-3 setelah tendangan keras Kurniawan menjebol gawang PSS. Tentu saja untuk mengejar ketertinggalan skor yang cukup besar merupakan sebuah hal yang mustahil bagi sebuah tim besar sekalipun.

Tetapi, ternyata anak-anak PSS tidak begitu patah semangat. Dukungan yang tiada henti dari Slemania mampu menaikkan semangat mereka. Hanya satu menit setelah gol ketiga, Tomy Haryanto yang baru saa masuk menggantikan Fajar Listiyantoro mampu melakukan tendangan spekulasi dari luarkotak penalti yang berhasil menjebol gawang PERSITARA, dan memperkecil ketinggalan menjadi 1-3.

Tim PSS yang tampaknya baru menemukan permainannya ini terus saja membombardir pertahanan Persitara. Upaya serangan yang dilakukan dari sektor sayap itu akhirnya berhasil. Kembali, Tomy Haryanto yang nampaknya ingin membuktikan kepada coach Rudy mampu menggiring bola dari sektor kanan dan mengoper ke tengah mampu dimanfaatkan oleh striker Mamadou dengan sundulan epala dan merobek jala Persitara sekaligus mendekatkan skor menjadi 2-3.

Memasuki menit-menit akhir, permainan PSS semakin menggila. Di saat injury time, pemain Persitara Dedi Mulyadi dengan sengaja menjatuhkan Ferry Setiawan di dalam kotak pinalti, dan wasit pun langsung menunjuk titik pinalti. Dan, Niane Mamadou berhasil melakukan eksekusi itu dengan baik yang membuat skor menjadi 3-3 hingga pertandingan usai.

Meskipun PSS mampu menciptakan keajaiban dengan mengejar ketinggalan 0-3 menjadi 3-3 tetapi hasil tersebut tidak membuat bangga para suporter mengingat pertandingan digelar di kandang sendiri. Pekerjaan berat masih terus menanti pelatih Rudi Keltjes untuk membenahi pasukannya.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.